Share for friends:

The Lady And The Unicorn (2004)

The Lady and the Unicorn (2004)

Book Info

Genre
Rating
3.65 of 5 Votes: 1
Your rating
ISBN
0452285453 (ISBN13: 9780452285453)
Language
English
Publisher
plume

About book The Lady And The Unicorn (2004)

Sekumpulan permadani ditemukan pada tahun 1841 oleh Prosper Mérimée, seorang dramawan, sejarawan, dan arkeolog Prancis bersama dengan temannya, George Sand. Mereka menemukannya ketika menginap di Château de Boussac Prancis tengah. Ternyata permadani itu bukan sembarang permadani, itu adalah permadani dari abad pertengahan yang akhirnya membawa kontribusi besar pada sejarah abad pertengahan Prancis.Siapa sebenarnya perancang atau pembuat permadani ini sebenarnya tidak diketahui. Tracy Chevalier 'membungkus' sejarah pembuatan enam permadani tersebut dengan kisah fiksi yang terjadi pada abad 15. Tidak semuanya fiksi, Tracy menuliskan di bagian akhir novel ini bahwa ia berusaha tetap setia pada sedikit fakta yang diketahui, termasuk membaca sumber-sumber sejarah abad pertengahan.Tracy membagi tokoh-tokoh dalam novel ini menjadi 3 bagian. Pertama adalah keluarga bangsawan, yaitu Jean Le Viste. Istrinya: Genevieve De Nanterre. Anaknya: Claude Le Viste, Kedua adalah perancang dan makelar, yaitu Nicolas Des Innocents sebagai perancang sketsa, dan Leon Le Vieux sebagai makelar antara Jean Le Viste dan Nicholas. Ketiga adalah keluarga penenun permadani yaitu Georges De La Chapelle sebagai pemilik usaha pembuatan permadani, Christine Du Sablon (istri Georges De La Chapelle) , Aleinor De La Chapelle (anak perempuan Georges), Georges Le Jeune (anak laki-laki Georges) , Philippe De La Tour (bekerja pada Georges).Jean Le Viste diceritakan sebagai bangsawan yang sangat dekat dengan Raja Louis XI. Ia ingin memperingati kenaikan pangkatnya dengan membuat permadani. Permadani itu akan dipajang di sebuah ruangan khusus. Awalnya, Jean Le Viste ingin menampilkan lambang keluarga yang berlatar belakang pertempuran. Unsur-unsur yang dikehendaki Le Viste yaitu: kuda-kuda, para lelaki dalam pakaian perang, panji-panji, tombak, pedang, perisai, dan darah. Namun, menurut pandangan Christine (istri Le Viste), gambar pertempuran sangat tidak elok dipajang di ruang rumah mereka. Karena itu ia mengusulkan lewat Nicholas, agar mengubah rancangan awal tadi dengan gambar anak perempuan mereka, Claude dengan binatang kesayangan Claude, yaitu Unicorn.Usulan gambar yang baru dibuat. Jean Le Viste setuju, namun memberi batas waktu dua tahun untuk mengerjakan 6 permadani. Hal itu disanggupi oleh Leon dan Nicholas. Bagi mereka, hal itu akan menambah pundi-pundi kekayaan mereka, sebab Jean membayar sangat mahal demi sebuah prestise tersebut.Leon dan Nicholas membawa hasil sketsa tersebut ke bengkel penenun permadani terkenal di Brussel (Belgia). Mereka memutuskan menyerahkan pekerjaan tersebut pada keluarga Georges De La Chapelle. Leon tidak percaya bahwa sketsanya akan dikerjakan sesuai dengan keinginannya. Karena itu, ia sekali waktu datang dari Prancis ke Brussel untuk memastikan apakah permadani tersebut telah selesai dikerjakan termasuk memastikan apakah sketsa yang ia buat telah sesuai dengan pengerjaannya.Nicolas Des Innocents si pelukis ternyata bukanlah The Innocent seperti namanya. Sebelum menerima pekerjaan dari tuan Viste, ia adalah pelukis wanita dan pelukis miniatur. Karena itu, tawaran melukis pertempuran adalah seseuatu hal di luar kebiasaannya. Ia berpikiran sama dengan Christine, bahwa tidak perlu melukis pertempuran. Christine berpikiran bahwa memajang lukisan pertempuran di rumah mereka akan menyinggung perasaan prajurit yang bertempur, sementara suaminya tidaklah melakukan pertempuran. Sedangkan dari sisi Nicholas, ia menyenangi melukis wanita, karena ia juga sangat menyukai wanita namun untuk dibawa ke tempat tidur. Tema permadani "The Lady and The Unicorn" akhirnya ditentukan. Nicholas membagi tema The Lady and The Unicorn dalam 6 bagian. Bagian-bagian tersebut adalah Tracy menulis novel ini dari berbagai sudut pandang tokoh. Karena dari berbagai sudut pandang, pembaca dapat mengetahui bagaimana tokoh tersebut menghadapi atau menyikapi suatu persoalan. Sederhananya, pembaca serasa menonton film. Contohnya bagaimana ketika Nicholas memandang Claude dan Genevieve yang akan dijadikan model dalam permadaninya:Sebenarnya bukan hanya ia (Jean Le Viste) yang ingin kubuat terkesan, tapi juga istri dan anaknya. Aku tak yakin mana yang lebih menggugahku-Wajah cantik Claude atau wajah murung Genevieve. Barangkali bakal ada cukup ruang bagi keduanya di hutan si UnicornKetika Claude menyadari bahwa dirinyalah yang dilukis Nicholas:Lama kutatap gambar tersebut. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku atau memindahkan gambar itu untuk melihat gambar selanjutnya. Ia telah melukisku. Ia memikirkanku seperti aku memikirkannya. Dadaku berdesir. mon seul désirKetika Genevieve menyadari bahwa sulitnya ia mengatur putri sulungnya:Aku lelah memikirkan Claude. Aku lelah mengkhawatirkan apa yang akan terjadi padanya, sementara dia sendiri jelas-jelas tidak peduli pada dirinya sendiri. Untuk sesaat aku bahkan tergoda untuk mendorongnya ke pelukan pelukis itu dan menutup pintu rapat-rapat bagi mereka berdua selamanya. Tentu saja aku tak bisa melakukan hal itu...Owkey...sekarang mari kita lihat masing-masing gambar pada permadani itu. Sumber gambar ini saya peroleh dari Musée National du Moyen Age, dimana Pemerintah Prancis membeli dan menyimpan permadani tersebut di tempat ini.1. "Taste"-Peraba: Singa dan unicorn berada di sisi Lady. Burung kakaktua ada di tangan kiri Lady sementara Lady mengambil sesuatu (sepertinya permen) dari keranjang dayangnya. Ada seperti anjing kecil di dekat kakinya.Saya bingung kenapa bendera yang di sebelah kanan bisa berdiri, padahal unicorn-nya sedang berdiri pada dua kaki. 2. "Sight"-Penglihatan : Sang unicorn sedang melihat cermin di kaki Lady. 3. "Touch"-Peraba :  Lady, berpakaian bagus, memegang bendera dan memegang tanduk  Unicorn. 4. "Smell"-Pencium : the Lady membuat rantai bunga. Monyet di belakangnya menghirup aroma bunga mawar. 5. "Hearing"-Pendengar : Lady memainkan organ di atas meja yang ditutupi karpet turki. Singa dan Unicorn berada di masing-masing sisi organ. Hanya pada gambar ini Unicorn dan singa bertukar tempat. 6. " To My Only Desire"-A mon seul désir: Ini tidak berkaitan dengan semua indra, apakah itu berarti indra keenam? Lady memberikan (atau mengambil?) kalung ke (dari) peti perhiasan yang disiapkan dayang. Tidak diketahui apakah gambar ini memang urutan pertama atau urutan terakhir karena gambar ini tidak "setema" dengan 5 gambar lainnya. Tema utamanya tetap Lady dan Unicorn. Sepertinya yang menjadi fokus adalah kalung perhiasan Lady, kepada yang paling diingininya. Di setiap gambar, Sang Lady berganti kostum, namun kostum tersebut menunjukkan kemewahan dan keanggunan. Satu-satunya yang ada tendanya juga pada gambar ini. Apakah yang mau diberikan adalah tendanya? (perhatikan ada tulisan A mon seul désir). Ciri utama gambar abad pertengahan adalah adanya "panggung" tempat berdiri tokoh-tokoh yang digambarkan berbunga-bunga, serta latar belakang dengan cabang/dahan yang mekar. Keseluruhan permadani ini dibuat dengan gaya mille-fleurs (berarti: "ribuan bunga"). Untuk melihat silsilah keluarga De Viste, bisa ditelusuri di web keluarga mereka di sini Jean Le Viste dalam novel ini adalah generasi keempat. Pernikahan Jean dengan Geneviève memberikan tiga putri: Claude, Jeanne, and petite Geneviève. Ada banyak hal lagi tentang isi novel ini yang dibahas dalam webnya Tracy, silakan bagi yang berminat untuk menelusurinya di sini. Ini mungkin yang menarik, Tracy memberikan informasi yang tak tertulis di bukunya, namun menyediakannya di web pribadi.Tracy dengan apik memberikan pengetahuan tentang abad pertengahan. Selain itu ia menceritakan suasana penenunan permadani kepada pembaca. Sebagai penulis kreatif ia memadukan pengetahuan lukisan, penenunan, kehidupan bangsawan, kehidupan biara. Ia memang serius dalam penulisan setiap novelnya. Untuk novel ini, ia membaca banyak buku serta mengunjungi museum dan tempat pembuatan permadani untuk mendapat feel pekerjaan itu. Mungkin karena itu juga cerita pada bagian melukis dan menenun, Tracy menuliskannya dengan mendetil. Bagi kita yang belum pernah punya pengalaman visual sebelumnya, tentunya akan sulit berimajinasi. Terjemahan novel ini juga banyak mempertahankan istilah-istilah dalam Bahasa Prancis. Mungkin lebih baik jika ada keterangan singkat tentang apa maksud/arti istilah-istilah seperti n'est-ce pas?, millefleur. Atau itu mungkin salah satu siasat supaya pembaca harus mencari sendiri? Hmmm...boleh jadi :)Tracy Chevalier lahir tahun 1962 and besar di Washington, DC. Ia memeroleh gelar Bachelor (in English) dari Oberlin College, Ohio. Setelah itu ia memeroleh gelar Master of Art di bidang creative writing dari the University of East Anglia, Norwich, England. Ia terkenal sebagai penulis novel fiksi sejarah. Novelnya antara lain Remarkable Creatures (2009), Burning Bright (2007), The Lady and the Unicorn (2003), Falling Angels (2001), Girl With a Pearl Earring (1999), dan The Virgin Blue (1997).Pekerjaan utamanya ialah menulis dan menjadi mengurus rumah tangga. Ia sangat menikmati profesi sebagai penulis. Ia mengatakan: Luckily writing is a flexible profession – I decide my schedule, and I can take as long as I need – for the most part.Selain gelar master di bidang kepenulisan dan telah menulis novel-novel best seller, ia memberikan tips menulis pada penulis pemula:* Don’t write about what you know – write about what you’re interested in. * Don’t write about yourself – you aren’t as interesting as you think! There’s a whole world out there to explore. * Be very critical – your writing can always be improved. Revise, then revise again, and [email protected]

I really enjoyed Tracy Chevalier's Girl With a Pearl Earring a few years ago, so when I spied her The Lady and the Unicorn in the audio book section of the library a few weeks ago, I grabbed it. I've had the novel languishing on the TBR shelf for years now, but this seemed like a perfect book for the car...and gym. Now that I've started treading the mill twice a week, my book consumption should skyrocket!Back to The Lady and the Unicorn. It was great. I particularly enjoyed the different voices of the various characters, starting with Nicolas des Innocents, the Lothario portrait painter who designed the tapestries which now hang in Musée de Cluny, the various women who inspired him both artistically and sensually, from the spoiled daughter of his patron, her mother, and the mother/daughter of the weaver who creates the final product.Not much is really known about Jean Le Viste, the French nobleman who commissioned the tapestries, and so I felt perfectly comfortable with the story that Chevalier created for their incarnation. In addition to providing an interesting story with interesting people that I came to care about, Chevalier skillfully imparts a lot of details about the daily life of the characters, be they noble, artisan, servant, or shopkeeper. I also learned about the mechanics of tapestry creation, a subject I happen to be very interested in, as well as a smattering regarding how guilds worked in medieval Europe. All fascinating stuff.My absolute favorite character was Christine, the weaver's wife, who is a strong individual and a talented weaver in her own right. In the story, she finally gets the chance to weave--the guild won't let women weave but her husband was so pressed for time, that he let her. She is also a true partner and soulmate to her husband, a practical but loving and tender mother, and a plain-spoken but devout woman. Strong but not headstrong. I've often said that, much as I love to read history, I would have gone crazy had I lived in a time other than now, but Christine is an intriguing portrait of a woman who can adapt and bend and still stay true to who she is.My second favorite character is Christine's daugher, Alienor. She is blind, she is dependent, and yet she saves herself from a horrible fate. She is strong and knows who she is and what she believes in. In contrast, the noblewomen, Jean La Viste's wife and daughter, are trapped, resentful, and bitter in their velvet cages.All of the women in their turn, including the servant girls and ladies in waiting, are seduced by the unicorn, Nicolas des Innocents, but then they seduce/entrap him as well.The Lady and the Unicorn is a well-crafted, interesting, imaginative novel that works on multiple levels and was a thoroughly enjoyable read.Good thing I'm on the wait list for Chevalier's latest, Remarkable Creatures.

Do You like book The Lady And The Unicorn (2004)?

Penso che dovrò dare un'altra possibilità alla Chevalier, anzi, ne sono sicura perchè le sue trame mi piacciono proprio, ma purtroppo La dama e l'unicorno non mi è piaciuto come speravo. Il romanzo è ambientato tra Parigi e Bruxelles e ogni capitolo è narrato dal punto di vista di un personaggio. Nicolas des Innocents, però, possiamo definirlo il protagonista, il disegnatore degli arazzi, colui che apre e chiude il racconto. Che dire? Un personaggio veramente rozzo e volgare,insopportabile, dipi
—Bunny

Jean Le Viste commissions painter Nicholas des Innocents to design six tapestries that will be hung in a grand hall within his magnificent Paris home. Jean is a conniving, deviously ambitious nobleman with a depressed wife and three daughters. The oldest daughter, Claude is beautiful and falls head over heals for Nicholas. Of course, this love is not meant to be, as Claude is nobility and Nicholas is just a mere painter, not to mention a womanizer and scoundrel, yet he is deliciously appealing. Nicolas designs six tapestries which depict a series of six ladies, each contributing to the seduction of a unicorn. The senses, touch, sense, sight, hearing, and taste are portrayed in the first five, while the sixth depicts love. The unicorn is in a quandary of sorts. Nicolas is sent to Brussels to oversee the weaving of his designs, and in doing so, helps a blind young woman, Alienor, change the course of her life. All five of the women in the designs are based on women he has loved, despised, admired or bedded. The tapestries, he comes to realize, tell his life’s story…..The ladies are, indeed, seducing this unicorn. Through irony and deception, Nicholas’ actions are threaded together, by his ladies, to a conclusion that is unexpected and unfulfilling for Nicholas. Today, the six authentic 15th century tapestries hang in Paris’ Museum of the Middle Ages. Although not much is known of the family who actually commissioned them, Chevalier brings history to life with timely characters, and colorful, sensual prose. The reader’s senses are heightened as the story is woven within the tapestries, each one capturing the lives of a painter, weaver, or nobleman and their families
—Jackie

"Gli arazzi sono molto diversi dai dipinti", ho esordito. "Uno che non ci ha mai lavorato non può capirlo. Spesso un pittore pensa che basti semplicemente ingrandire e tessere le figura che ha dipinto, lasciandole così come sono. Ma guardare un arazzo non è come guardare un quadro. Il dipinto di solito è più piccolo, così lo sguardo riesce ad abbracciarlo tutto in una volta. Non ci si deve avvicinare troppo, basta rimanere a un paio di passi di distanza, come se ci si trovasse davanti a un prete o a un insegnante. All'arazzo, invece, ci si avvicina come a un amico. Se ne vede solo una parte per volta, e non necessariamente quella più importante. Ecco perché nessuna delle figure deve risaltare troppo, ma integrarsi in modo armonico in un insieme piacevole alla vista, ovunque vadano a posarsi gli occhi dell'osservatore."Anche questa volta Tracy Chevalier non mi ha deluso, è ufficiale, questi libri sono i miei preferiti, quelli dove c'è una buona ricostruzione storica, che mi riportano indietro nel tempo, pagina dopo pagina sono trascinata nella Parigi e nella Bruxelles del 1400. Come nella "Ragazza con l'orecchino di perla" dove partendo da un famosissimo quadro, la scrittrice ha intessuto una magnifica storia, qui ha fatto altrettanto partendo dalla "Dama con l'unicorno" facente parte del ciclo di cinque arazzi fiamminghi ha permeato una buona storia di fantasia.Il personaggio principale Nicolas des Innocents che viene assoldato dal ricco Jean Le Viste per creare dei magnifici arazzi, per decorare e arricchire il suo splendido salone delle feste, il pittore gran donnaiolo userà come soggetto la seduzione di un unicorno da parte di una dama. La storia si dipana tra Parigi e Bruxelles, dove c'è la bottega del tessitore Georges, della moglie Christine e della figlia cieca Alienor e racconta dell'amore impossibile da coronare tra lo stesso pittore e la figlia di Le Viste, Claude.Per me è un buon romanzo, la lettura è stata piacevole ed intrigante, ma l'ho trovata meno incisiva dello splendido libro della "Ragazza con l'orecchino di perla", non ho apprezzato il personaggio di Nicolas des Innocents, il grande seduttore, che vuol far sesso con qualsiasi donna che le capiti a tiro e che nessuna di loro sa resistergli, ne è venuto fuori un uomo troppo esagerato ed esibizionista, mentre ho amato la figura di Alionor una ragazza forte e battagliera che non si scoraggia neppur per la sua cecità.
—Claudia Sesto

download or read online

Read Online

Write Review

(Review will shown on site after approval)

Other books by author Tracy Chevalier

Other books in category Fiction